Kolaborasi LPEI-Indonesia Eximbank dan Atdag Canberra Perkuat Strategi Penetrasi Pasar

Potensi ekspor Indonesia ke Australia terus menunjukkan tren positif, seiring dengan kehadiran lebih dari 120 ribu diaspora Indonesia di Negeri Kanguru. Diaspora ini berperan sebagai cultural broker yang memahami dinamika pasar lokal, dan dapat menjadi mitra strategis bagi pelaku usaha Indonesia dalam memperkenalkan produk dan menjembatani distribusi di pasar Australia.

Sebagai langkah konkret dalam mendorong ekspor ke Australia dan Selandia Baru, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) bekerja sama dengan Atase Perdagangan Canberra, Kementerian Perdagangan RI, dan Export Expert Indonesia, menyelenggarakan kegiatan Market Brief dan Pitching Pasar Australia dan New Zealand pada hari Senin, 28 April 2025 di Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 20 pelaku usaha Indonesia yang berorientasi ekspor, dan bertujuan membekali mereka dengan pemahaman pasar, strategi promosi, serta akses fasilitas pembiayaan ekspor dari LPEI.

Dalam paparannya, Atase Perdagangan Canberra Agung Haris Setiawan menyampaikan bahwa nilai perdagangan Indonesia-Australia mencapai USD 13,47 miliar pada 2024, dengan ekspor Indonesia ke Australia sebesar USD 5,59 miliar. Komoditas utama ekspor meliputi mesin-mesin mekanik (HS84), barang dari besi dan baja (HS72), mesin/peralatan listrik (HS85), migas (HS27), dan pupuk (HS31). Ekspor nonmigas Indonesia bahkan tumbuh signifikan hingga 60,58%, menurunkan defisit perdagangan Indonesia terhadap Australia sebesar 30% dibandingkan tahun sebelumnya.

Salah satu sektor potensial adalah makanan dan minuman (HS 19, 21, 22), dengan nilai ekspor mencapai USD 160,5 juta di tahun 2024. Haris menekankan pentingnya mengikuti tren makanan sehat, berbasis tanaman (plant-based), rendah gula, serta memenuhi standar FSANZ sejak awal. Partisipasi pada pameran seperti Good Food & Wine Show dan Fine Food Australia juga menjadi strategi efektif untuk membangun jejaring dengan buyer. Tak kalah penting, bumbu masak otentik Indonesia dan produk home decor berbasis rotan dan bambu juga menunjukkan prospek besar karena nilai budaya, keberlanjutan, dan desain unik yang sangat diapresiasi konsumen Australia.

Pada kesempatan tersebut, Atdag Canberra juga meluncurkan secara resmi layanan KSATRIA, WhatsApp chatbot berbasis AI yang dapat diakses oleh pelaku usaha Indonesia untuk mendapatkan informasi ekspor secara cepat, akurat, dan praktis. KSATRIA akan terintegrasi dengan ekosistem www.tanya-atdag.au untuk memberikan layanan responsif berbasis data dan kebutuhan pelaku usaha.

Sementara itu, Maria Sidabutar, Kepala Divisi SMEs Advisory LPEI, menyampaikan bahwa LPEI terus mendorong pelaku usaha, terutama yang belum pernah ekspor, melalui program non-finansial seperti Business Matching, Desa Devisa, dan Coaching Program for New Exporters (CPNE). Dengan pendekatan menyeluruh dan kolaboratif bersama Atase Perdagangan, LPEI berkomitmen membangun ekosistem ekspor yang inklusif dan berkelanjutan, memanfaatkan teknologi dan jejaring internasional untuk memperkuat posisi UMKM Indonesia di pasar global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Info Terkait