Pada 20 November 2025, Atase Perdagangan KBRI Canberra menghadiri kegiatan business matching yang secara khusus mempertemukan pelaku industri kulit Indonesia dengan para pengusaha dan pemangku kepentingan sektor peternakan serta penyedia bahan baku kulit di Australia. Pertemuan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah Indonesia untuk memperluas jejaring dan memperdalam hubungan ekonomi dengan Australia, khususnya dalam sektor yang memiliki keterkaitan erat dengan perdagangan sapi dan daging yang telah lama menjadi fondasi hubungan dagang kedua negara. Dengan menghadiri langsung forum ini, Atdag Canberra memastikan bahwa kepentingan industri kulit Indonesia mendapat perhatian dan ruang untuk diperjuangkan dalam diskusi tingkat bisnis.
Indonesia selama ini dikenal sebagai salah satu pengimpor terbesar live cattle dan meat dari Australia, sebuah hubungan dagang yang telah berjalan stabil dan saling menguntungkan. Namun, di balik keberhasilan sektor tersebut, industri kulit Indonesia menghadapi tantangan yang cukup serius, terutama terkait ketersediaan bahan baku kulit yang belum mampu memenuhi kebutuhan industri domestik. Kondisi ini bukan hanya berdampak pada kapasitas produksi sektor kulit nasional, tetapi juga menahan potensi ekspor produk kulit olahan Indonesia yang sebenarnya memiliki daya saing tinggi di pasar internasional. Ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan bahan baku inilah yang melatarbelakangi pentingnya dialog langsung melalui business matching tersebut.
Dalam forum itu, pelaku industri kulit Indonesia menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari pasokan kulit mentah yang tidak stabil, standar kualitas bahan baku yang sering kali tidak seragam, hingga harga yang berfluktuasi. Di samping itu, mereka juga menjelaskan bahwa tingginya permintaan produk kulit di pasar domestik dan global tidak sebanding dengan kemampuan industri untuk memenuhi kebutuhan tersebut karena keterbatasan bahan baku. Para pelaku usaha Indonesia memanfaatkan momen ini untuk menjelaskan potensi besar yang dapat diperoleh Australia apabila kerja sama pasokan bahan baku kulit dapat dibangun secara lebih terstruktur. Hal ini mencakup kemungkinan pengolahan bersama, ekspor bahan baku kulit, hingga peluang investasi industri kulit di Indonesia.
Dari sisi Australia, pelaku usaha dan produsen yang hadir menunjukkan ketertarikan untuk mengeksplorasi kolaborasi yang lebih luas dalam sektor kulit, terutama karena industri peternakan di Australia menghasilkan volume kulit samping (by-products) yang cukup besar namun belum sepenuhnya dimaksimalkan nilai tambahnya. Mereka memandang bahwa kerja sama dengan Indonesia dapat membuka peluang baru bagi diversifikasi produk turunan peternakan serta memperluas pasar ekspor kulit ke industri manufaktur yang lebih besar. Diskusi berjalan dengan konstruktif, dan kedua pihak tampak berkomitmen untuk mencari model kerja sama yang tidak hanya mengatasi kendala jangka pendek tetapi juga memberikan manfaat strategis bagi rantai pasok jangka panjang.
Melalui business matching ini, pemerintah Indonesia berharap terbentuknya hubungan yang lebih kuat antara pelaku industri kulit kedua negara, sejalan dengan hubungan dagang live cattle dan meat yang sudah berjalan selama bertahun-tahun. Penguatan kerja sama tersebut diharapkan dapat mengatasi permasalahan bahan baku kulit yang dialami industri nasional sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru bagi Australia sebagai pemasok utama bahan baku peternakan. Pertemuan ini menjadi langkah awal yang sangat penting dalam membangun fondasi kolaborasi yang lebih luas, sekaligus mempertegas komitmen Indonesia dalam memperkuat sektor manufaktur berbasis kulit. Dengan sinergi yang tepat, kerja sama Indonesia–Australia di sektor kulit berpotensi berkembang menjadi kemitraan strategis yang saling menguntungkan dan mendukung pertumbuhan industri kedua negara.

